Sudah kita ketahui bersama Phenom II X6 sudah cukup banyak beredar di pasaran terutama seri Phenom II X6 1055T dengan clock default 2,8 Ghz dan Turbo 3,3 Ghz, dengan teknologi turbo ini clock processor dapat meningkat secara otomatis ke tingkat yang lebih tinggi karena kenaikan multipliernya, tapi apakah kenaikannya itu untuk semua core ? Effisienkah teknologi turbo ini ? Bagaimana dengan VCore nya apakah naik drastis ? terus bacaimana cara kerjanya turbo tersebut?
Mungkin itu sebagian kecil pertannyaan yang ada di benak saya ketika mencoba Phenom II X6 1055T ini, soalnya baru kali ini AMD menambahkan embel-embel "T" yang berarti di akhir nama processornya. Processor ini dijual dengan harga sekitar Rp. 1.900.000 mungkin untuk sebagian orang ada yang bilang mahal, ada juga yang bilang murah. Menurut saya pribadi harga ini tergolong cukup mahal wong biasanya cuman pake dual core yang 400Rban he he
, tetapi apabila kita melihat dari banyak core yang ada dalam 1 processor, dengan harga 1,9 Jt kita sudah mendapatkan processor dengan murni 6 core di dalamnya, tentu saja saja performanya kita dapatkan juga tidak main-main. Untuk masalah performa nanti akan saya jelaskan lebih lanjut melalui berbagai macam benchmark yang telah saya lakukan.
AMD juga mengeluarkan Phenom II X6 1090T Black Edition sebagai flagship baru setelah sebelumnya dipegang oleh Phenom II X4 965 BE. Perbedaan mendasar antara Phenom II 1055T dan 1090T Black Edition ini adalah seri Black Edition mempunyai multiplier yang di unlock sehingga untuk melakukan overclock secara sederhana dapat dilakukan hanya dengan cara menaikan multiplier dan menaikan VCore sesuai dengan kebutuhan processor, agar lebih optimal tentu saja settingan-setingan lain dapat ditambahkan sesuai skill dan kemampuan kita sebagai overclokernya. Lantas bagaimana dengan performa Phenom II 1055T apabila dibandinkan dengan Phenom II 1090T BE. Apakah Phenom II 1090T BE lebih unggul ?. Tentu saja kalau dilihat dari clock processor secara default pastinya Phenom II 1090T BE lebih unggul dibandingkan dengan Phenom II 1055T, tetapi apabila dilakukan optimalisasi yang baik bukan tidak mungkin Phenom II 1055T bisa menyamai atau bahkan melampaui Phenom II 1090T. Nanti saya akan mencoba menjelaskan bagaimana cara melakukan pengoptimalisasiannya tersebut.
Mungkin sebagian teman-teman ada yang bertanya bagaimana dengan motherboardnya ? apakah harus motherboard baru seperti motherboard dengan chipset AMD Seri 8 ?. Pernanyaan itu juga muncul di benak saya, soalnya sebelum Phenom II X6 1055T ini keluar saya sudah terlebih dahulu membeli motherboard MSI NF980 G65 dengan chipset nVidia nForce 980a yang dulu sempat saya test untuk melakukan unlock Sempron 140 yang hasilnya ternyata tidak bisa. Fitur NVCC di motherboard ini seperti hanya sebuah hiasan saja karena sama sekali tidak berfungsi.
Masalah utama agar Phenom II X6 ini dapat dikenenali oleh motherboard adalah BIOSnya, sudah banyak motherboard-motherboard tipe lama yang sudah support Phenom II X6 asalkan BIOSnya terlebih dahulu diupdate, meskipun ada juga motherboard yang seharusnya sudah support tapi tidak dibuatkan BIOS oleh produsen motherboard tersebut, bila itu terjadi mau tidak mau bila kita ingin mencoba Phenom II X6 harus ada biaya tambahan untuk membeli Motherboard yang sudah mensupport Phenom II X6 ini. Ketidakharusan membeli motherboard baru inilah yang banyak disukai oleh kita sebagai konsumen, karena kita hanya perlu membeli processornya saja sedangkan hardware lainnya masih memakai yang lama. Untuk MSI NF980 G65 yang saya pakai untungnya ternyata MSI membuatkan BIOS yang sudah support Phenom II X6, sehingga saya dapat mencoba Phenom II X6 ini untuk disandingkan dengan chipset terakhir keluaran nVidia yaitu nForce 980a yang ada sebagian orang yang menamainya dengan "The Last Samurai nVidia" untuk motherboard saja tentunya
, kerena nVidia sudah tidak lagi memproduksi motherboard. sepengetahuan saya chipset terakhir nVidia untuk Intel hanya sampai nVidia 790i Ultra dengan 3 buah PCI-E Full 16X, dan untuk AMD yaitu nForce 980a, banyak orang yang mengatakan bahwa nVidia 980a adalah rebranding (ganti nama) dari nForce 780a dengan tambahan kemampuan untuk memsupport DDR3, terlepas dari semua itu tetap saja saya pribadi ingin mencoba chipset terakhir keluaran nVidia tersebut. Bagaimana performanya ?, nanti akan saya coba tunjukan lebih lanjut mengenai performanya.
So Are You Ready ?
Sekarang langsung saja pada Hardware yang saya gunakan :
Processor : Phenom II X6 1055T
Motherboard : MSI NF980 G65
Memory : Muscle Power DDR3 2000 CL9 2x2GB
VGA : DA 9600GT Sonic + Zotac 9600GT Supreme SLI Mode Full 16X
Cooling : Cooler Master Gemini II + Thermalteke Fan 3200 Rpm & 1500 Rpm
Power Supply : Silverstone ST50F 500 Watt
HDD : WDC 640 GB AAKS
LCD : AOC 19" VW+
Untuk Operating systemnya saya memakan Windows 7 64 Bit, dan driver VGA terbaru yaitu versi Forceware 197.77 Win 7/Vista 64-bit WHQL
Ini ada sedikit foto hardware ketika saya melakukan test ini :



Sekarang langsung saja pada bagian BIOS nya :
Setelah beberapa hari saya mengotak-atik BIOS di tengah kesibukan kuliah juga he he, saya telah berhasil manaikan clock dari yang standardnya 2,8 Ghz menjadi 4,05 Ghz dengan stabil, peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 1,25 Ghz, kesetabilan ini tentu saja saya peroleh dari hasil stability test oleh beberapa software yang saya gunakan untuk seperti Prime95, LinX, IBT, OCCT, dll.
Berikut adalah tampilan settingan BIOS yang saya gunakan, dan akan coba saya sedikit jelaskan.

Pada tampilan BIOS tersebut saya memakai CPU FSB (HTT) sebesar 300 Mhz dengan Multiplier 13,5 sehingga didapat clock sebesar 4,05 Ghz. Untuk CPU-NB Ratio saya memakai 10X sehingga didapat NB Frekuensi sebesar 3000 Mhz. Untuk FSB/DRAM saya memakai 1:2,66 sehingga ram berjalan pada kecepatan 1600 Mhz atau lebih dikenal dengan nama DDR3 PC12800.
Untuk HT Link Speed-nya sendiri saya set 8X sehingga HT Link berjalan pada 300x8=2400 Mhz. HT Link Windth di set di 16X untuk downstrem dan 16X juga untuk upstream. Untuk konfigurasi tegangannya dapat dilihar pada gambar diatas. Untuk konfigurasi tegangan ini sebenarnya relatif dan belum tentu sama untuk setiap hardware.
CPU Voltage adalah tegangan yang diberikan pada processor, semakin tinggi tegangannya maka akan semakin tinggi pula clock processor yang mungkin dapat dicapai, tentu saja panas yang dihasilkan juga akan semakin tinggi sehingga perlu pendingin yang cukup baik.
CPU-NB Voltage adalah nilai tegangan yang berpengaruh terhadap nilai dari NB Frekuensi, dimana semakin tinggi nilai CPU-NB Voltage maka NB Frekeunsi yang mungkin dicapai akan menjadi semakin tinggi yang secara otomatis akan berpengaruh pada bandwidth memory. Untuk lebih jelasnya nanti akan saya jelaskan lebih lanjut.
DRAM Voltage adalah tegangan yang diberikan pada memory, semakin tinggi tegangan yang diberikan maka akan semakin tinggi frekuensi dan semakin ketat timing yang mungkin dapat dicapai oleh memory, tentu saja chipset dan pendingin memory juga mempunyai peranan yang cukup penting.
NB Voltage adalah tegangan yang di berikan pada Northbridge motherboard kita, sepertinya kenaikan tegangan ini cukup membantu dalam stabilitas sistem.
HT Voltage adalah tegangan yang mengontrol nilai HTT dan HT Link, semakin tinggi maka akan semakin tinggi pula HTT dan HT Link yang dapat kita capai.
Mungkin ada yang bertanya CPU VDD dan CPU-NB VDD Voltage itu buat apa ?, dari hasil pengalaman saya kedua nilai tersebut hanya sebagai referensi saja untuk kenaikan CPU Voltage dan CPU NB Voltege, dimana apabila dinaikan sesuai tingkatannya maka renge tingkat kepresisian untuk kenaikan CPU Voltage dan CPU NB Voltege akan semakin kecil, hal ini cukup penting karena untuk mendapatkan kombinasi Clock Processor dan NB Frekeunsi dengan tegangan yang sekecil mungkin yang masih memungkinkan agar processor tersebut dapat bekerja normal dan stabil.
Pada MSI NF980 G65 ini sebenarnya ada semacam bug, dimana apabila HT Link Speed dan CPU-NB Ration di set manual, nilai CPU-NB Ration selalu lebih besar 2X dari nilai HT Link Speed. Misalkan saya Set HT Link Speed di 7X, meskipun saya Set CPU-NB Ration di 7X atau lebih kecil, tetap saja Real yang di deteksi di CPU-Z adalah 9X, jika saya Set HT Link Speed di 8X Maka Nilai CPU-NB Ratio berada di 10X, dan seterusnya. Sebenarnya bug ini cukup membuat saya bingung, tapi sebenarnya settingan tersebut tidak terlalu membuat system saya menjadi tidak stabil karena dengan adanya bug tersebut saya masih bisa memaksimalkan bandwidth memory sebab CPU-NB Ratio berhubungan dengan NB Frekuensi yang otomatis berhubungan dengan bandwidth memory secara keseluruhan. Supaya lebih real maka saya langsung mengeset nilai CPU-NB selalu lebih besar 2X dari nilai HT Link Speed.
Selanjutnya pada bagian timing memory.


Dari gambar diatas saya hanya sedikit mengkonfigurasi nilai-nilai penting penting pada memory seperti CAS Latency, TRCD, TRP, TRAS, TRC, serta 1T/2T Memory Timing, yang lainnya saya biarkan Auto. Nilai nilai tersebut cukup berpengaruh pada nilai bandwidth yang didapat pada saat pengujian bandwidth memory melalui software seperti MaxxMem2 dan Everest Memory Benchmark.
Selanjutnya saya akan coba jelaskan sedikit mengenai pengaruh HT Link Frekuensi, NB Frekuensi, Timing Memory, Ganged-Unganged DDR3, dan juga Clock Processor dari hasil test yang telah saya lakukan.
HT Link
Mungkin banyak yang pernah dengar HT Link berpengaruh pada aplikasi 3D, dari hasil test yang saya lakukan HT Link akan berjalan optimal maksimal di 2600 Mhz lebih dari itu sudah tidak optimal. Saya melakukan pengujian dengan software 3D Mark 2006 dengan VGA 9600GT SLI pada frekuensi 700/1000/1750 (Core/Memory/Shader), dimulai dari HT Link sebesar 1800-3000 Mhz, dengan cara merubah HT Multiplier dari software nVidia nTune seperti terlihat pada gambar berikut :

Berikut adalah hasilnya :
HT Link : 1800 Mhz

HT Link : 2100 Mhz

HT Link : 2400 Mhz

HT Link : 2700 Mhz

HT Link : 3000 Mhz

Dari kelima konfigurasi tersebut dapat terlihat dari HT Link 1800 - 2400 Mhz mangalami kenaikan score, sedangkan dari HT Link 2700 - 3000 Mhz mengalami penurunan score. Score paling parah adalah ketika frekuensi berada apada 3000 Mhz, 9600GT SLI terlihat menjadi sangat tidak powerfull.
Saya rasa setting paling optimal berada di frekuensi 2600 Mhz sesuai dengan spesifikasi maksimal HT Link patokan AMD yaitu sebesar 2600 Mhz alias 5200 MT/s.
Jujur, aya sendiri masih belum mengetahui alasan apa yang menyebabkan terjadinya hal tersebut, padahal biasanya semakin tinggi suatu frekuensi maka akan semakin cepat, tetapi kali ini tidak demikian. Barangkali ada teman-teman yang tau alasan logisnya seperti apa ?
Pengaruh NB Frekuensi, Timing Memory, Ganged-Unganged DDR3, Clock Processor pada Bandwidth Memory
Sekarang akan saya coba jelaskan pengaruh faktor-faktor diatas terhadap bandwidh memory yang didapat.
Hasil test ini akan cukup mewakili pertanyaan-pertanyaan seperti :
- Untuk AMD yang memakai DDR3 bagusnya memakai mode ganged atau unganged ya ?
- Apakah Perlu saya ganti dari DDR3 PC 12800 CL9 ke PC 12800 CL7 atau CL6 ?
- Apakah Clock Processor juga berpengaruh ke bandwidth memory ?
- NB Frekuensi bagusnya di berapa Mhz ya ?
Langsung saja berikut hasil testnya :
A. Ganged-Unganged DDR3
Mode Ganged

Mode Unganged

Dari hasil test tersebut secara keseluruhan mode unganged lebih unggul dibandingkan dengan mode ganged, meskipun mode ganged lebih cepat sedikit pada bagian Read.
Karena Mode Unganged lebih cepat dari pada mode ganged, maka untuk test selanjutnya saya hanya memakai mode unganged.
B. Clock Processor
Clock Processor 4,05 Ghz

Clock Processor 4,2 Ghz

Dari gambar dapat terlihat adanya peningkatan bandwidth memory meskipun sedikit, hal ini menunjuakan bahwa dengan konfigurasi yang sama, semakin tingginya clock processor maka bandwidth memory akan semakin cepat.
C. Timing Memory
DDR3 PC 12800 CL7

DDR3 PC 12800 CL9

Meskipun pada gambar dapat terlihat memory memory DDR3 PC12800 CL9 lebih lambat dari pada DDR3 PC 12800 CL7 tetapi perbedaannya tidak sebesar apa yang dibayangkan.
D. NB Frekuensi
NB Frekuensi 3000 Mhz

NB Frekuensi 2700 Mhz

Dari kedua hasil tersebut NB Frekuensi = 3000 Mhz lebih cepat dibandingkan dengan NB Frekuensi = 2700 Mhz, hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi NB Frekuensi maka Bandwidth memory akan semakin cepat.
Jika ditarik kesimpulan dari keempat test tersebut. Faktor NB frekuensi sepertinya mempunyai andil paling besar apabila dibandingkan dengan faktor-faktor lain seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Misalkan ada contoh : Si A mempunyai memory dengan timing longgar, Si A ingin supaya memory tersebut berkerja dengan cepat maka pilihan yang paling tepat adalah dengan cara memaksimalkan NB frekuensinya, tentu saja mungkin tidak semuanya dapat berjalan sesuai dengan keinginannya, tetapi tidak ada salahnya memcoba. Paling tidak Si A telah mencoba memaksimalkan kinerja memorynya tanpa membeli memory baru dengan timing yang lebih ketat. Tentu saja yang paling ideal untuk menghasilkan bandwidth yang tinggi adalah Clock processor & NB frekuensi yang tinggi disertai timing memory yang ketat.
Selanjutnya akan coba saya jelaskan mengenai teknologi turbo yang ada di processor Phenom II X6 ini.
TURBO
Teknologi turbo ini sebenarnya akan menaikan clock processor dengan cara memaikan multipliernya ke tingkat yang lebih tinggi.
Lalu muncul pertanyaan :
- Apakah semua Clock Proessor pada setiap core akan naik ?
- Bagaimana Effisiensi nya ?
- Settingannya bagaimana ?
- Bagaimana dengan VCore nya apakah ikut naik ?
Saya akan coba jelaskan sedikit dari hasil test yang telah saya lakukan.
Pertama tentu saja settingan BIOS, berikut adalah settingannya :


Dapat terlihat pada gambar saya hanya merubah bagian NB Frekuensi menjadi 9X dan HT Link menjadi 7X, serta mengaktifkan Turbo pada multiplier 14X, sehingga pada kondisi turbo Processor akan berjalan pada clock 4,2 Ghz. Dari hasil test yang saya lakukan agar dapat berjalan pada HT Link Speed 8X dan CPU-NB Ratio = 10X ternyata perlu ada tambahan tegangan lagi pada CPU-NB Voltage sampai 1,5 V baru turbo berjalan dengan normal. Untuk pengetesan ini maka saya cukupkan pada HT Link yang berjalan pada 2100 Mhz dan NB Frekuensi pada 2700 Mhz. Saya coba simulasikan dengan bantuan software Prime95 untuk masing-masing core dan sedikit settingan Set Affinity untuk mensetting core mana saja yang harus berkerja, dan saya juga memakai software coretemp agar terlihat core mana saja yang benar-benar bekerja. Berikut adalah hasilnya :
Turbo 1-3 Core



Dari ketiga gambar tersebut teknologi turbo masih dapat bekerja maksimal sampai 3 Core, Bagaimana apabila lebih dari 3 Core ? Untuk yang lebih dari 3 core maka akan ada pembagian kecepatan core masing-masing seperti terlihat pada gambar dibawah ini :
4 Coro Turbo

Pada saat 4 core yang bekerja Core 1-3 hanya bekerja pada frekuensi 4050 Mhz dan Core 4 1200 Mhz.
5 Core Turbo

Pada saat 5 core yang bekerja hanya ada 3 Core yang bekerja pada frekuensi 4050 Mhz dan 2 Core pada frekuensi 1200 Mhz.
6 Core Turbo

Apabila keenam processor itu bekerja hanya ada 2 Core yang bekerja pada frekuensi 4050 Mhz dan 4 Core lainnya pada frekuensi 1200 Mhz.
Jika saya tarik kesimpulan dari keenam gambar diatas adalah teknologi turbo hanya dapat bekerja maksimal untuk 3 Core, lebih dari itu yang bekerja adalah optimalisasi percore yang dilakukan oleh processor ini sendiri. Untuk Vcore nya memang naik masih masih dalam range yang sama seperti apabila turbo tidak aktif.
Lantas sebenarnya effisien tidak teknologi turbo ini ?
Kalo saya pikir-pikir apabila kita hanya maksimal menggunakan 3 core tentu saja dengan adanya tambahan kecepatan processor akan banyak membantu, tapi apabila lebih dari 3 core sepertinya sudah tidak optimal lagi, karena masing-masing core kecepatannya berbeda-beda. Sepertinya teknologi turbo ini juga menekan panas agar tidak terlalu berlebihan yang nantinya akan mengganggu kesetabilan processor. Selanjutnya saya coba simuliasikan dengan 3D Mark 2006 dan 3D Mark Vantage untuk melihat CPU Scorenya saja. Berikut hasilnya :

Dari gambar tersebut terlihat nilai CPU Score yang turun cukup drastis, ini membuktikan bahwa Turbo tidak cukup optimal untuk pekerjaan yang lebih dari 3 Core.
Sekarang akan saya lanjutkan apabila CnQ (Cool & Quiet) diaktifkan.
CnQ (Cool & Quiet)
Berbeda dengan Turbo, CnQ akan menurunkan semua Core pada keadaan idle dan menaikan semua Core pada keadaan Load, meskipun hanya 1 yang dalam keadaan full load. Sama seperti yang tadi saya menggunakan bantuan software Prime95 untuk stressing dan Coretemp untuk melihat perubahan yang terjadi.
Berikut simulasinya :
Keadaan Idle

Pada keadaan idle terlihat CnQ sudah aktif
Keadaan Load

Disini saya hanya melakukan stressing untul 5 core, dapai terlihat disini semua core pada clock yang sama yaitu 4050 Mhz. Sehingga dapat saya simpulkan CnQ berjalan sebagaimana mestinya. Penasaran bagaimana nilai CPU Score nya ?, berikut hasilnya :

Nilai CPU Score sudah terlhat normal, disertai dengan pengoptimalan daya karena dalam keadaan idle tentu saja daya yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit.
Sepertinya sudah cukup untuk masalah pengoptimalan Phenom II 1055T ini, sekarang saatnya untuk melihat lebih dalam kemampuan dari gabungan The Last Samurai nVidia aka nForce 980a dan Phenom II X6 1055T @4,05 Ghz
Pertama-tama dalam menemukan settingan yang tepat, paling tidak saya melakukan test Prime95-Blend selama 1 jam. Sebenernya 1 jam saja tidaklah cukup tapi paling tidak cukup membuktikan bahwa settingan yang telah diaplikasikan cukup stabil. Berikut hasil test Prime95 selama 1 jam :

Bagaimana dengan suhunya ?
Seberapa panas yang dihasilkan pada saat 4,05 Ghz. Berikut adalah suhu maksimum yang dihasilkan pada clock 4,05 Ghz.

Melalui gambar tersebut dapat terlihat suhu maksimum percore adalah 53 Derajat, sedangkan secara secara keseluruhan adalah maksimum 60 derajat. Saya sendiri sebenarnya masih penasaran mengenai suhu maksimum yang dimaksud oleh AMD untuk Phenom II 1055T 125 Watt yaitu sebesar 62 derajat celcius, 62 derajat yang dimaksud oleh AMD itu percore-nya atau secara keseluruhannya ? Tapi kalo mau aman kita ambil yang keseluruhannya aja ya :D lumayanlah 2 derajat sebelum maksimum. He he ...
Selanjutnya saya test menggunakan software-software benchmark yang umum dipakai yaitu PC Mark Vantage dan PC Mark 2005. Berikut hasilnya :
1. PC Mark 2005

2. PC Mark Vantage

Kedua test tersebut dapat dilalui dengan lancar, meskipun saya menunggu cukup lama supaya dapat mengambil screenshot ... he he.
Sekarang kita lihat secara lebih mendetail kemampuan dari Phenom II X6 1055T pada clock 4,05 Ghz ini. Saya melakukan beberapa pengujian dengan menggunakan Cinebench 11.5 64 Bit dan SiSoftware Sandra Lite 2010 Versi 16.41
Cinebench 11.5 64 Bit

Phenom II 1055T pada Clock 4,05 Ghz ini sudah melampaui kemampuan dari Intel Core i7 960 pada clock 3,2 Ghz. Saya masih penasaran bagaimana apabila Phenom II 1055T ini berjalan pada clock 3,2 Ghz, tetapi dengan 6 core aktif. Berikut hasilnya :

Ternyata Phenom II ini masih berada diatas Intel Core i7 960 3,2 Ghz. Saya juga masih penasaran apabila Phenom II ini dilimit menjadi hanya 4 Core saja yang aktif di 3,2 Ghz apakah masih diatas Intel Core i7 960, berikut hasilnya :

Saya melakukan test diatas dengan mengeset Affinity menjadi hanya Core 0-3(4 Core) yang berkerja dan core lainnya tidak bekerja, dan juga sedikit mengedit Number of Render thread menjadi 8, tetapi setelah saya pikir rasanya tidak adil karena sedikit berbeda analoginya, saya melakukan test menjadi murni 4 core, sedangkan Core i7 mempunya 4 Core dan 8 Thread. Kalo mau adil sepertinya core i7 harus berjalan dengan 4 Core tanpa Hyper Threading (HT) dengan clock yang sama. Kira-kira siapa yang menang ya ? Ada yg punya i7 yang jalan di 4 Ghz tanpa HT Nilai renderingnya berapa ?
SiSoftware Sandra Lite 2010
Selanjutnya saya akan memperlihatkan kemampuan Phenom II X6 1055T 4,05 Ghz ini apabila dibandingkan dengan processor-processor lain yang tentunya lebih mahal melalui SiSoftware Sandra Lite 2010
Processor Arithmetic

Dari gambar tersebut terbukti bahwa Phenom II X6 ini dapat bersaing ketat dengan Intel Core i7 870 HT Turbo 3,6 Ghz dan Core i7 965 HT Turbo 3,47 Ghz. Sungguh performa yang cukup baik bukan ?
Cryptography

Melalui test ini untuk untuk masalah Cryptographic bandwidth Phenom II X6 ini berada diatas Intel Core i7 980X HT Turbo 3,6 Ghz, tetapi untuk Hashing Bandwidthnya berada dibawah Core Core i7 980X HT Turbo 3,6 Ghz. Untuk Core i7 975/965 HT Turbo ternyata berada di bawah Phenom II X6 1055T 4,05 Ghz ini. He he
Processor Multi-Media

Lagi-lagi Phenom II X6 1055T @4,05 Ghz ini dapat membuktikan kemampuannya untuk bersaing dengan processor yang lebih mahal.
Sekarang saya lanjutkan ke test yang lebih memperlihatkan kemampuan gabungan antara Memory-Chipset nForce 980a dan tentu saja Integrated Memory Controller (IMC) dari processornya itu sendiri.
Memory Bandwidth

Untuk masalah memory Bandwidth harus diakui bahwa Intel lebih baik, dengan konfigurasi Phenom II X6 yang saya dapatkan, ternyata hanya mampu bersaing dengan Chipset X58 dengan memory Triple Channel PC 8500 (533 Mhz), yang saya rasa jarang sekali Intel X58 memakai memory yang berjalan pada kecepatan 533 Mhz aka PC8500, kebanyakan diatas 800 Mhz alias datas PC12800.
Cache and Memory

Untuk Cache/Memory Bandwidth Phenom II X6 ini cukup dapat meninggalkan para pesaingnya, hanya kalah di Speed Factor oleh Intel Core i7 Series.
Memory Latency

Untuk masalah Memory latency dengan settingan yang ada, tenyata mengungguli para pesaingya hanya kalah di Speed Factor saja.
Test selanjutnya adalah untuk melihat kemampuan dari Phenom II 1055T 4,05 Ghz disandingkan dangan Motherboard berchipset nForce 980a, dan tak lengkap rasanya apabila tidak kita tidak melihat kemampuan SLI nya. Pada pengujiannya yang saya lakukan, saya memakai 2 buah VGA nVidia 9600GT pada Mode Full 16X. Saya sebenarnya ingin memakai 8800GT/9800GT tapi sepertinya PSU nya akan tidak kuat :p, jadi saya cukupkan sampai 9600GT saja.
Saya menggunakan software 3D Mark 2006, 3D Mark Vantage dan Unigine Heaven Bencmark 2.1. Untuk 2 buah 9600GT nya sendiri saya Overclock pada frekuensi 775/1075/1900 (Core/Memory/Shader), dan saya juga membedakan antara konfigurasi single dan SLI sehingga kita dapat melihat berapa % peningkatanya.
3D Mark 2006
Mode Single

Mode SLI

Dapat sama-sama kita lihat ada peningkatan sebesar 46% antara mode SLI, peningkatan yang cukup baik saya rasa. Nilai 3D Mark 2006 sebesar 20881 untuk 2 buah 9600GT SLI tentu saja merupakan hasil yang cukup baik.
Mungkin ada yang bertanya kira-kira bisa menyentuh angka 22.000 gak ya ?
Hmmm ...... nanti deh saya tunjukan, makannya bacanya sampai beres ya !! He he .....
Selanjutnya saya lanjutkan pada 3DMark Vantage dengan konfigurasi Phsyx ON/OFF serta Single/SLI.
3D Mark Vantage
Single Phsyx ON

SLI Phsyx ON

Dari kedua gambar diatas dapat terlihat peningkatan sebesar sebesar 86 % untuk mode SLI. Selanjutnya kita coba dalam keadaan Phsyx Off, berikut hasilnya :
Single Phsyx Off

SLI Phsyx Off

Dari kedua gambar diatas dapat terlihat peningkatan sebesar 80 % untuk mode SLI. Sungguh effisiensi yang cukup baik saya rasa. Selanjutnya bagaimana dengan Unigine Heaven Bencmark 2.1, saya jalankan pada settingan default untuk Unigine nya sendiri. Mari kita lihat screenshot berikut :
Unigine Heaven Bencmark 2.1
Single Mode

SLI Mode

Dari kedua gambar tersebut dapat terlihat peningkatan sebesar lebih dari 100%, hal ini cukup membuat saya kaget, effiseinsi 9600GT SLI sudah melebihi ekspektasi saya. He he ....
Dari ketiga benchmark diatas sepertinya untuk game-game sekarang yang berbasis DirectX 10 ketas yang mungkin bisa cukup diwakilkan oleh Unigine Heaven bencmark 2.1 dan 3D Mark Vantage ternyata peningkatan antara mode Single dan mode SLI adalah cukup signifikan yaitu berkisar antara 80%-100% bahkan lebih, untuk 3D Mark 2006 sendiri sepertinya sudah tidak mewakili game-game sekarang karena 3D Mark 2006 masih berbasis DirectX 9. Tentu saja yang jangan sampai kita lupakan adalah kemampuan processor itu sendiri, semakin cepat processor maka semakin tinggi pula VGA Card dapat menunjukan performa yang sesungguhnya, seperti yang terlihat pada 9600GT SLI disandingkan dengan Phenom II X6 1055T 4,05 Ghz dan juga The Last Samurai nVidia tentunya aka nForce 980a ... he he ...
Selanjutnya ada berapa test sebagai bonus terakhir dari saya, he he ...
WPrime 2.03

3D Mark 2005

3D Mark 2006 Score = 22073
Seperti yang telah saya janjikan, tenyata dengan menaikan clock ke 4,2 Ghz dan dengan menggunkanan Windows XP Score 22073 dapat tercapai.
CPU Score nya sendiri cukup tinggi yaitu berada di angka 8000an.

Maximum Frekuensi Memory
Saya tadinya penasaran memorynya bisa sampai DDR3 2000 gak ya ? setelah saya test ternyata hanya sampai 940 Mhz saja atau DDR 3 1880. Meskipun saya telah melonggarkan kembali timing tetap saja hanya mentok di 940 Mhz.


Maksimum Bandwidth
Dengan menaikan HTT & NB Frekuensinya lagi, saya berhasil mendapatkan bandwidth seperti pada gambar dibawah ini.

Super Pi 1MB Sub 15 detik

Dengan Clock Processor 4387 Mhz saya berhasil mencapai sub 15 detik untuk Super Pi 1MB.
Super Pi 32MB

Dengan Clock 4,2 Ghz Super Pi 32MB diselesaikan dalam waktu 16 Menit 46 Detik.
Kesimpulan1. Phenom II X6 1055T apabila dioptimalisasi dengan baik dapat menjadi processor yang sangat powerfull dan dapat bersaing dengan processor-processor lain yang lebih mahal.
2. Nilai HT Link yang paling optimal adalah 2600 Mhz alias 5200 MT/s, lebih dari itu maka kemampuan untuk menjalankan aplikasi 3D nya akan semakin berkurang.
3. Untuk AMD dengan DDR3 ternyata mode unganged mempunyai bandwidth memory yang lebih baik dibandingkan dengan mode ganged.
4. Untuk menghasilkan bandwidth memory yang besar faktor NB frekuensi mempunyai andil paling besar apabila dibandingkan dengan faktor timing memory, CPU Clock, dan frekuensi memory itu sendiri. Semakin tinggi NB Frekuensi maka Bandwidth memory akan semakin cepat.
5. Teknologi turbo hanya dapat bekerja maksimal untuk 3 Core, lebih dari itu yang bekerja adalah optimalisasi percore yang dilakukan oleh processor ini sendiri.
6. Dengan processor yang powerfull kemampuan VGA Card yang sesungguhnya dapat dikeluarkan semua, meskipun VGA tersebut adalah generasi lama dan jangan lupa dukungan hardware-hardware lain juga mempunyai peranan yang sangat penting disini.
7. Sebagai chipset motherboard terakhir dari nVidia yaitu nForce 980a, ternyata mempunyai performa yang sangat baik terbukti score-score yang didapat juga cukup fantastis.
8. Pengujian stabilitas system pada keadaan di overclock merupakan faktor yang penting sebab apabila tidak stabil tentu saja akan banyak menggangu kegiatan kita di depan komputer tersebut.
Terima Kasih telah menyempatkan membaca hasil tulisan saya ini, semoga berguna bagi semuanya.